mendiagnosis multiple sclerosis
dikarenakan oleh batasan yang lebar serta seluk beluk dari gejala-gejala, multiple sclerosis barangkali tidak terdiagnosis untuk berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sesudah munculnya gejala-gejala. dokter-dokter, terlebih ahli-ahli syaraf, mengambil sejarah-sejarah yang mendetil serta melaksanakan pemeriksaan-pemeriksaan fisik serta syaraf dengan penuh.
mri ( magnetic resonance imaging ) scans dengan intravenous gadolinium menolong untuk mengidentifikasi, melukiskan, serta pada sebagian kejadian-kejadian menanggali luka-luka di dalam otak ( plaques ).
satu tes electro-physiological, yang menyebabkan potensial-potensial, menguji impuls-impuls yang jalan melewati syaraf-syaraf untuk memastikan apakah impuls-impuls bergerak dengan normal atau terlampau perlahan.
selanjutnya, pengujian cairan cerebro-spinal yang melingkari otak serta spinal cord barangkali mengidentifikasi kimia-kimia ( antibodi-antibodi ) atau beberapa sel abnormal yang merekomendasikan kehadiran dari multiple sclerosis.
dengan berbarengan, tiga tes-tes ini menolong dokter saat mengkonfirmasi diagnosis dari multiple sclerosis. untuk satu diagnosis yang tentu dari multiple sclerosis, penyebaran kurun waktu ( sangat sedikit dua kejadian-kejadian simptomatik atau perubahan-perubahan yang terpisah pada mri ) serta didalam ruangan anatomi ( perumpamaannya, di dalam sistim syaraf pusat ) mesti ditunjukan.
menjaga multiple sclerosis
banyak perihal untuk pasien serta dokter untuk dipertimbangkan saat merawat multiple sclerosis. tujuan-tujuan barangkali terhitung kurangi jumlah dari serangan-serangan, melakukan perbaikan pengobatan dari serangan-serangan, serta coba memperlambat kemajuan dari penyakit yang lebih jauh ( perawatan dengan obat-obat yang memodifikasi penyakit ). satu tujuan tambahan yaitu pembebasan dari komplikasi-komplikasi yang dikarenakan oleh kehilangan fungsi dari organ-organ yang dipengaruhi ( perawatan dengan obat-obat yang ditujukan pada gejala-gejala spesifik ). umumnya ahli-ahli syaraf dapat memperhitungkan perawatan dengan obat-obat yang memodifikasi penyakit sekali diagnosis dari multiple sclerosis ditegakkan. banyak dapat mulai perawatan pada waktu serangan pertama dari multiple sclerosis, dikarenakan percobaan-percobaan klinik sudah merekomendasikan bahwa pasien-pasien yang perawatannya dipending barangkali tidak memperoleh faedah sejumlah pasien-pasien yang dirawat awal. selanjutnya, memakai grup-kelompok pendukung atau penasehat barangkali bermanfaat untuk pasien-pasien serta keluarga-keluarga mereka yang hidupnya barangkali dengan segera di pengaruhi oleh multiple sclerosis.
sekali tujuan-tujuan sudah ditetapkan, terapi awal barangkali terhitung obat-obat untuk mengendalikan serangan-serangan, gejala-gejala, atau kedua-duanya. satu pengertian dari efek-efek sampingan yang mungkin dari obat-obat yaitu mutlak untuk pasien dikarenakan adakalanya efek-efek sampingan sendiri menghambat pasien-pasien dari terapi obat. pasien-pasien barangkali memilih untuk hindari sekalipun obat-obat atau memilih satu obat alternatif yang barangkali tawarkan pembebasan dengan efek-efek sampingan yang lebih sedikit. satu dialog yang terus-terusan pada pasien serta dokter perihal obat-obat yaitu mutlak didalam memastikan keperluan-keperluan untuk perawatan.
obat-obat yang diketahui merubah sistim imun sudah jadi konsentrasi utama untuk mengendalikan multiple sclerosis. awalannya, corticosteroids, layaknya prednisone ( deltasone, liquid pred, deltasone, orasone, prednicen-m ) atau methylprednisolone ( medrol, depo-medrol ), dipakai secar luas. bagaimanapun, dikarenakan dampak mereka pada sistim imun yaitu non-spesifik serta pemakaian mereka barangkali mengakibatkan banyak efek-efek sampingan, corticosteroids saat ini condong dipakai untuk mengendalikan cuma serangan-serangan multiple sclerosis yang mendadak serta berat/parah.
interferon
sejak th. 1993, obat-obat yang mengubah sistim imun, terlebih interferon-interferon, sudah dipakai untuk mengendalikan multiple sclerosis. interferon-interferon yaitu kurir-kurir protein yang dibikin serta dipakai oleh beberapa sel sistim imun untuk berkomunikasi sesamanya. ada tipe-tipe yang tidak sama dari interferon-interferon, layaknya alpha, beta, serta gamma. seluruh interferon-interferon memiliki kekuatan untuk mengatur sistim imun serta memainkan satu peran mutlak saat melindungi pada infeksi-infeksi virus. tiap-tiap interferon berperan dengan tidak sama, tetapi fungsi-fungsinya tumpang tindih ( saling melengkapi ). interferon-interferon beta sudah ditemukan bermanfaat saat mengendalikan multiple sclerosis. interferon beta-1b ( betaseron® ) yaitu interferon pertama yang disetujui untuk mengendalikan rr-ms pada th. 1993. pada th. 1996, interferon beta-1a ( avonex® ) terima persetujuan fda untuk rr-ms.
dengan total, pasien-pasien yang dirawat dengan interferon-interferon alami lebih sedikit kekambuhan-kekambuhan atau satu interval yang lebih panjang pada kekambuhan-kekambuhan. percobaan-percobaan sudah juga memberikan efek-efek pada perlambatan akumulasi dari ketidakmampuan. efek-efek sampingan yang sangat umum yaitu satu sindrom layaknya influensa yang terhitung demam, kecapaian, kelemahan, kedinginan, serta nyeri-nyeri otot. sindrom ini condong berlangsung lebih jarang saat terapi berlanjut. efek-efek sampingan lain yang umum yaitu reaksi-reaksi area suntikan, perubahan-perubahan pada jumlah-jumlah sel darah, serta kelainan-kelainan dari tes-tes hati. tes-tes hati serta jumlah-jumlah darah yang teratur direkomendasikan untk pasien-pasien yang tengah terima interferon beta-1b. dengan pemakaian yang serentak dari analgesics serta tindakan-tindakan kulit lokal, ketoleranan pada interferon-interferon sudah meningkat.
percobaan-percobaan klinik dari obat-obat interferon beta pada pasien-pasien dengan serangan pertama multiple sclerosis memberikan bahwa pada populasi pasien awal ini, obat-obat ini menunda munculnya serangan ke-2. avonex® diberikan dengan intramuskular sekali 1 minggu, betaseron® diberikan dengan subkutan tiap-tiap hari lain, serta rebif® diberikan dengan subkutan tiga kali per minggu.
interferon beta yang ada terhitung :
ifn beta-1b ( betaseron® ) yang dipakai untuk perawatan dari bentuk-bentuk kekambuhan dari multiple sclerosis, untuk kurangi frekwensi dari kekambuhan-kekambuhan klinik. pasien-pasien dengan multiple sclerosis yang keefektifannya sudah ditunjukan terhitung pasien-pasien yang sudah alami satu episode klinik pertama serta memiliki tanda-tanda mri yang berkelanjutan dengan multiple sclerosis.
ifn beta-1a ( rebif® ) yang dipakai untuk perawatan dari pasien-pasien dengan bentuk-bentuk kekambuhan dari multiple sclerosis untuk kurangi frekwensi dari kekambuhan-kekambuhan klinik serta menunda akumulasi dari ketidakmampuan fisik. keefektifan dari rebif® pada multiple sclerosis progresif yang kritis tetap belum ditetapkan.
ifn beta-1a ( avonex® ) yang dipakai untuk perawatan dari pasien-pasien dengan bentuk-bentuk kekambuhan dari multiple sclerosis untukmemperlambat akumulasi dari ketidakmampuan fisik serta kurangi frekwenai dari kekambuhan-kekambuhan klinik. pasien-pasien dengan multiple sclerosis yang keefektifannya sudah ditunjukan terhitung pasien-pasien yang sudah alami satu episode klinik pertama serta mepunyai tanda-tanda mri yang berkelanjutan dengan multiple sclerosis. keamanan serta keefektifan pada pasien-pasien dengan multiple sclerosis progresif yang kritis tetap belum ditetapkan.
No comments:
Post a Comment